BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Disusun Oleh :
Nama : Arto Maryanto (56081010016)
Prodi : PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG
2009/2010
Balikan dan Penguatan
Siswa selalu membutuhkan suatu kepastian dari kegiatan yang dilakukan, pakah benar atau salah? Dengan demikian siswa akan selalu memiliki pengetahuan tentang hasil (knowledge of result), yang sekaligus merupakan penguat (reinforce) bagi dirinya sendiri. Seorang siswa belajar lebih banyak bilamana setiap langkah segera diberikan penguatan (reinforcement) (Davies, 1987:32). Hal ini timbul karena kesadaran adanya kebutuhan untuk memperoleh balikan dan sekaligus penguatan bagi setiap kegiatan yang dilakukannya. Untuk memperoleh balikan penguatan bentuk-bentukperilaku siswa yang memungkinkan diantaranya adalah dengan segera mencocokkan jawaban dengan kunci jawaban, menerima kenyataan terhadap skor/nilai yang dicapai, atau menerima teguran dari guru/orang tua karena hasil belajar yang jelek.
Guru sebagai penyelenggara kegiatan pembelajaran harus dapat menentukan bentuk, cara serta kapan balikan dan penguatan diberikan. Agar balikan dan penguatan bermakna bagi siswa, guru hendaknya memperhatikan karakteristik siswa. Di dalam proses pembelajaran sehari-hari sebagian besar guru seringkali mengembalikan berkas pekerjaan siswa dengan mencantumkan nilai atau skor tertentu dari hasil pekerjaannya. Sebagian besar guru yang lain tidak terbiasa mengembalikan pekerjaan siswa beserta hasil koreksinya, sehingga siswa-siswa tidak mengetahui hasil yang mereka dapatkan. Padahal menurut Skiner pemberitahuan kepada siswa tentang hasil yang mereka dapatkan sangat penting untuk menumbuhkan motivasi belajar mereka. Pada dasarnya prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama ditekankan oleh teori belajar Operant Conditioning dari Skinner. Kalau pada teori conditioning yang diberi kondisi adalah stimulusnya, maka pada operant conditioning yang diperkuat adalah responsnya.
Kunci dari teori belajar ini adalah law of effect-nya Thorndike. Siswa akan belajar lebih bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik. Hasil, apalagi hasil yang baik, akan merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya. Namun dorongan belajar itu menurut skinner tidak saja oleh penguatan yang menyenangkan tetapi juga yang tidak menyenangkan. Atau dengan kata lain penguatan positif maupun negative dapat memperkuat belajar.
Siswa belajar sungguh-sungguh dan mendapatkan nilai yang baik dalam ulangan. Nilai yang baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik dapat merupakan operant conditioning atau penguatan positif. Sebaliknya, anak yang mendapatkan nilai yang jelek pada waktu ulangan akan merasa takut tidak naik kelas, karena itu ia terdorong untuk belajar lebih giat. Disini nilai buruk dan rasa takut itu mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Inilah yang disebut penguatan negative. Disini siswa mencoba menghindari dari peristiwa yang tidak menyenagkan, maka penguatan negative juga disebut escape conditioning. Format sajian berupa Tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan, dan sebagainya merupakan cara belajar-mengajar yang memungkinkan terjadinya balikan dan penguatan. Balikan yang segera diperoleh siswa, setelah belajar melalui penggunaan metode-metode ini akan membuat siswa terdorong untuk belajar lebih giat dan bersemangat.
Memberikan penguatan (reinforcement) merupakan tindakan atau respon terhadap suatu bentuk perilaku yang dapat mendorong munculnya peningkatan kualitas tingkah laku pada waktu yang lain.sebagai contoh, ketika seorang siswa berhasil menyelesaikan tugas dengan baik,lalu guru mengatakan atau memberikan pujian; “Bagus, tugasmu sungguh baik, rapi dan diselesaikan tepat pada waktunya”. Bisa juga guru mendekati siswa tersebut, kemudian mengelus elus pundaknya dan mengatakan: “sungguh, kamu telah bekerja keras, dan hasilnya bagus sekali”. Cara-cara tersebut mempunyai arti penting untuk membesarkan hati siswa dan mendorong motivasinya guna lebih giat mengerjakan pekerjaan agar lebih baik pada waktu-waktu berikutnya.
Memberikan penguatan dan balikan merupakan hal yang kedengarannya sederhana dan mudah, akan tetapi seringkali tidak terlalu mudah untuk dilakukan oleh setiap guru. Hambatannya bisa dalam berbagai bentuk yang berbeda. Beberapa orang guru mungkin belum terbiasa melakukannya, sangat mungkin karena anggapan mereka yang belum menempatkan “penguatan” sebagai sesuatu yang penting dalam proses pembelajara. Karena itu perlu upaya-upaya latihan agar keadaan tersebut menjadi terbiasa untuk dilakukan.sumantri dan Permana (1999:274) mengemukakan secara khusus beberapa tujuandari pemberian penguatan,yaitu:
a. Membangkitkan motivasi belajar peserta didik
b. Merangsang peserta didik berpikir lebih baik
c. Menimbulkan perhatian peserta didik
d. Menumbuhkan kemampuan berinisiatif secara pribadi
e. Mengendalikan dan mengubah sikap negativ peserta didik dalam belajar ke arah perilaku yang mendukung belajar
Terdapat beberapa jenis penguatan yang dapat dilakukan guru:
1. Penguatan verbal, yaitu penguatan yang diberikan guru beberapa kata-kata/kalimat yang diucapkan, seperti: “bagus”, “baik”, “smart”, “tepat” dan sebagainya.
2. Pengutan gestural, yaitu pengutan berupa gerak tubuh atau mimik muka yang memberi arti/kesan baik kepada peserta didik. Penguatan gestural dapat berupa; tepuk tangan, acungan jempol, anggukan, tersenyum, dan sebagainya.
3. Pengutan dengan cara mendekati, yaitu perhatian guru terhadap perilaku peserta didik dengan cara mendekatinya. Pengutan dengan cara mendekati ini dapat dilakukan ketika peserta didik menjawab pertannyaan, bertanya, berdiskusi atau sedang melakukan aktivitas-aktivitas lannya.
4. Penguatan dengan cara sentuhan, yaitu penguatan yang dilakukan guru dengan cara menyentuh peserta didik, seperti menepuk pundak, menjabat tangan, mengusap kepala peserta didik, atau bentuk-bentuk lainnya.
5. Penguatan dengan cara memberikan kegiatan yang menyenangkan. Memberikan penghargaan kepada kemampuan peserta didik dalam suatu bidang tertentu,seperti peserta didik yang pandai bernyanyi diberikan kesempatan untuk melatih vokak pada temannya.
6. Penguatan berupa tanda atau benda, yaitu memberikan penguatan kepada peserta didik berupa simbol-simbol atau benda-benda. Penguatan ini dapat berupa komentar tertulis atas karya peserta didik, hadiah, piagam, lencana, dan sebagainya.
Ketepatan pemberian dan penggunaan penguatan harus mendapat perhatian guru. Bilamana penguatan dipergunakan pada situasi dan waktu yang tidak tepat, maka hal itu dapat kehilangan keefektifannya. Sebaliknya bilamana penguatan itu dipergunakan secara tepat, maka akan memberikan pengaruh yang positif terhadap aktivitas belajar peserta didik.
a) Pada saat peserta didik menjawab pertanyaan,atau merespon stimulasi guru atau peserta didik yang lain.
b) Pada saat peserta didik menyelesaikan PR
c) Pada saat peserta didik mengerjakan tugas-tugas latihan
d) Pada waktu perbaikan dan penyempurnaan tugas
e) Pada saat penyesaian tugas-tugas kelompok dan mandiri
f) Pada saat membahas dan membagikan hasil-hasil latihan dan ulangan
g) Pada situasi tertentu tatkala peserta didik mengikuti kegiatan secara sungguh-sungguh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan isi disini